วันอังคารที่ 2 กรกฎาคม พ.ศ. 2556

"Tanda-Tanda Husnul Khatimah"

Tanda-Tanda Husnul Khatimah
Oleh : A.Biara

Setiap yang bernyawa pasti akan tiba ajalnya (QS Ali-Imran [3]:185). Hanya saja waktu dan tempatnya adalah entah dimanai. Manusia tidak dapat mengetahui dan menetapkan jadwal kematian, karena ini adalah rencana dari Allah SWT.

Kematian pula bukanlah kejadian biasa, tapi ia adalah peristiwa besar yang menyakitkan yang ditandai dengan terputusnya hubungan antara roh dan jasad, perubahan situasi dan adanya peralihan dari suatu alam ke alam lain.

Kematian berlaku dengan cara yang beraneka ragam, secara umum dapat dibahagi kepada dua keadaan. Pertama, meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (akhir hayat yang bagus).

Dan kedua, meninggal dunia dalam keadaan suul khatimah (akhir hayat yang buruk). Keadaan yang pertama menunjukkan suatu gambaran bahwa nasib yang akan dialami oleh si mayat setelah kematiannya akan bahagia.

Sebaliknya, keadaan yang kedua menggambarkan keburukan yang bakal dialaminya. Bagi orang yang meninggal dalam keadaan husnul khatimah mempunyai tanda-tanda tertentu yang sepatutnya diketahui oleh setiap orang, terutama kalangan umat Islam.

Tanda-tanda tersebut, di antaranya sebagai berikut. Pertama, mengucapkan kalimat tauhid (syahadah). Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang di akhir hayatnya mengucapkan la ilaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah SWT), maka ia masuk surga.” (HR Abu Dawud).

Kedua, dahi atau keningnya berpeluh. Sebuah riwayat dari Buraidah bin Hashib RA, dia berada di Khurasan. Lalu, saudaranya kembali kepadanya dalam keadaan sakit sehingga ia sempat menyaksikan kematiannya.

Saat saudaranya meninggal dunia, ia melihat peluhny keluar dari dahinya, dan berkata, “Allahu Akbar”. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Meninggalnya seorang Mukmin ditandai dengan berpeluh di dahinya.” (HR Tirmizi, Nasa’i, dan Ibn Majah).

Ketiga, meninggal dunia pada malam Jumat atau siang harinya. Tanda ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Umar RA. Dia mendengar bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidaklah seorang Muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau malamnya, melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah siksa kubur.” (HR Tirmizi).

Keempat, mati syahid. Ada lima macam mati syahid yang disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW, yakni disebabkan wabah (al-math’un), sakit perut ( al-mabthun), karam atau tenggelam (al-ghariq), tertimpa tanah runtuh (shahibul hadm), dan syahid dalam perang di jalan Allah. (HR Bukhari dan Muslim).

Itulah di antara tanda-tanda meninggal dunia secara husnul khatimah yang disebutkan oleh nabi SAW. Mudah-mudahan kelak kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (akhir yang baik), yakni golongan yang memperoleh hakikat kebahagiaan dan kemuliaan di sisi Allah SWT.

"Syariat Puasa Ramadhan"

Syariat Puasa Ramadhan
Oleh : A. Biara

Sebelum mewajibkan puasa Ramadhan bagi kaum Muslimin tahun ke-2 hijriyah, Allah SWT telah mensyariatkan puasa kepada para nabi terdahulu.

Menurut Ibnu Jarir Al-Thabari, syariat puasa pertama diterima oleh Nabi Nuh AS setelah beliau dan kaumnya diselamatkan oleh Allah SWT dari banjir bandang. Nabi Daud AS melanjutkan budayai puasa dengan cara sehari puasa dan sehari berbuka.

Dalam pernyataannya Dawud AS berkata, “Adapun hari yang aku berpuasa di dalamnya adalah untuk mengingat kaum fakir, sedangkan hari yang aku berbuka untuk mensyukuri nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT.”

Pernyataan Daud AS tersebut ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Sebaik-baiknya puasa adalah puasa Daud, yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka.” (HR. Muslim).

Nabi Musa AS kemudian mewarisi budaya berpuasa. Menurut para ahli tafsir, Musa dan kaum Yahudi telah melaksanakan puasa selama 40 hari (QS. Al Baqarah: 40). Salah satunya jatuh pada tanggal 10 bulan Muharram yang dimaksudkan sebagai ungkapan shukur atas kemenangan yang diberikan oleh Allah SWT dari kejaran Firaun.

Puasa 10 Muharram ini dikerjakan oleh kaum Yahudi Madinah dan Rasul SAW menegaskan umat Islam lebih berhak berpuasa 10 Muharram dari pada kaum Yahudi kerana hubungan keagamaan memiliki kaitan yang lebih rapat dibandingkan dengan hubungan kesukuan.

Untuk membezakannya, Rasul SAW kemudian mensyariatkan puasa sunah tanggal 9 dan 10 Muharram, selain untuk membezakan puasa kaum Yahudi, juga ungkapan  kemenangan kebenaran atas kebatilan.

Ibunda Nabi Isa AS juga melakukan puasa yang berbeza dengan para pendahulunya, yaitu dengan tidak berbicara kepada siapa pun. Allah SWT berfirman, “Maka jika kamu melihat seorang manusia, katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Mahapemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini’.” (QS. Maryam: 26).

Keempat riwayat di atas merupakan sejarah puasa agama samawi yang menjadi rujukan  disyariatkannya puasa dalam Islam. Adapun puasa agama ardhi (agama buatan manusia), kendati sama sekali bukan rujukan namun mereka juga telah melakukan puasa dengan model yang berbeza-beza.

Sebelum puasa Ramadhan diwajibkan, Rasul SAW telah memerintahkan kaum Muslimin puasa Hari Asyura tanggal 9 dan 10 Muharram. Namun begitu perintah puasa Ramadhan tiba, puasa Asyura yang sejatinya ditambah satu hari oleh Rasul SAW menjadi puasa sunah.

Tingginya tingkat kesulitan dalam melaksanakan puasa menjadikan syariat ini turun belakangan setelah perintah haji, shalat dan zakat. Wajar jika kemudian ayat-ayat tentang puasa Ramadhan turun secara berangsung-angsur: Pertama, perintah wajib puasa Ramadhan dengan pilihan. (QS. Al-Baqarah: 183-184).

Kaum Muslimin boleh memilih berpuasa atau tidak berpuasa, namun mereka yang berpuasa lebih utama dan yang tidak berpuasa diharuskan membayar fidyah. Kedua, kewajiban berpuasa secara menyeluruh kepada kaum Muslimin, dengan pengecualian bagi orang-orang yang sakit dan bepergian serta manula yang tidak kuat lagi berpuasa (QS. Al-Baqarah: 185).

Inilah syariat puasa dalam Islam yang menyempurnakan tradisi puasa seluruh agama samawi yang ada sebelumnya.

"Cara Rasulullah Sambut Ramadhan"

Cara Rasulullah Sambut Ramadhan
Oleh : A. Biara

Adalah Rasul SAW yang mempersiapkan dirinya menyambut kedatangan setiap bulan Ramadhan. Persiapan Rasul tersebut bukan hanya bersifat jasmani, melainkan paduan jasmani dan rohani mengingat puasa sebagaimana ibadah yang lain adalah paduan ibadah jasmani dan rohani.  Oleh sebab itu, ia disyariatkan paling akhir di antara ibadah wajib lainnya. Persiapan jasmani tersebut dilakukan oleh Rasul SAW melalui puasa Isnin-Kamis dan setiap bulan sejak bulan syawal hingga Sya’ban.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW senantiasa puasa Isnin dan Kamis. Dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasul, engkau senantiasa puasa Isnin dan Kamis.”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya pada setiap hari Senen dan Kamis Allah SWT mengampuni dosa setiap Muslim, kecuali dua orang yang bermusuhan. Allah berfirman, ‘Tangguhkanlah keduanya sampai keduanya berdamai’.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam kaitannya dengan puasa tiga hari setiap bulan, Rasul SAW bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifari RA, “Wahai Abu Dzar, jika engkau ingin berpuasa setiap bulan, maka puasalah tanggal 13,14 dan 15.” (HR. Tirmidzi).

Sedangkan persiapan rohani dilakukan oleh Rasul SAW melalui pembiasaan solat tahajud setiap malam serta zikir setiap waktu dan kesempatan. Bahkan, solat tahajud yang hukumnya sunah bagi kaum Muslimin menjadi wajib bagi pribadi Rasul SAW.

Diriwayatkan oleh Aisyah RA yang bertanya kepada Rasul SAW mengenai pembiasaan solat tahajud, padahal dosa-dosa beliau telah diampuni oleh Allah SWT, Rasul SAW menjawab dengan kata-kata yang sangat indah, “Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?”
Memasuki bulan Sya’ban, Rasul SAW meningkatkan ibadah puasa, qiyamul lail, zikir dan amal salehnya. Peningkatan tersebut dikeranakan semakin dekatnya bulan Ramadhan yang akan menjadi puncak aktifiti kesalehan oleh setiap orang Muslim.

Jika biasanya dalam sebulan Rasul SAW berpuasa rata-rata 11 hari, maka di bulan Sya’ban ini beliau berpuasa hampir sebulan penuh. Dikisahkan oleh Aisyah RA bahwasanya, “Rasulullah banyak berpuasa (di bulan Sya’ban) sehingga kita mengatakan, beliau tidak pernah berbuka dan aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah banyak berpuasa (di luar Ramadhan) melebihi Sya’ban.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dalam riwayat Usama bin Zayed RA dikatakan, “Aku bertanya kepada Rasul, ‘Wahai Rasulullah, Aku tidak melihatmu banyak berpuasa seperti di bulan Sya’ban?’ Beliau menjawab, ‘Sya’ban adalah bulan yang dilupakan manusia, letaknya antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan tersebut amal manusia diangkat (ke langit) oleh Allah SWT dan aku menyukai pada saat amal diangkat aku dalam keadaan berpuasa’.” (HR. An-Nasa’i).

Sya’ban adalah bulan penutup rangkaian puasa sunah bagi Rasulullah SAW sebelum berpuasa penuh di bulan Ramadhan. Jika Rasul telah mempersiapkan penyambutan Ramadhan dengan berpuasa minimal 11 hari di luar Sya’ban dan 20-an hari di bulan Sya’ban, berarti untuk menyambut Ramadhan Rasulullah SAW telah berpuasa paling sedikitnya 130 hari atau sepertiga lebih dari jumlah hari dalam setahun.

Maka, hanya persiapan yang baiklah yang akan mendapat hasil yang baik, dan demikian pula sebaliknya. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk mempersiapkan diri di bulan Sya’ban sehingga memperoleh hasil yang maksimal di akhir Ramadhan.

PETIKAN HIKMAH ISRA’ DAN MI`RAJ

PETIKAN HIKMAH ISRA DAN MI`RAJ
Oleh :  A. Biara
Pada  27 Rajab umat Islam memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Salah satu mukjizat Nabi SAW berupa perjalanan malam hari dari Masjid Haram ( Makkah) ke Masjid Aqsha (Palestina) dilanjutkan dengan “naik” ke Sidratul Muntaha menghadap Allah SWT. Dalam Alquran, peristiwa itu disebutkan dalam dua ayat.
Peristiwa Isra’ disebutkan dalam QS. Isra: 1, ‘‘Mahasuci Dzat yang telah menjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada waktu sebagian dari malam hari dari masjid Al-Haram ke masjid Al-Aqsha yang telah Kami beri berkah sekelilingnya agar Kami dapat menunjukkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami…”
Sedangkan peristiwa Mi’raj disebutkan dalam QS. An-Najm: 13-18: ”Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muhtaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.’‘
Tujuan Isra Mi’raj adalah untuk memperlihatkan sebahagian bukti atau tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT (QS. 17:1) serta untuk menguji keimanan manusia (QS. 17:60).
Di kalangan ulama muncul pendapat, tujuan Isra’ Mi’raj adalah lit-tatsbit (untuk memantapkan atau mengukuhkan Nabi SAW dalam kedudukan kenabian dan kerasulannya), lit-takrim (untuk memuliakan Nabi SAW sebagai makhluk pilihan Allah SWT), dan listi’dalil quwah (untuk mempersiapkan keknatan jasmaniah, ruhaniah, dan aqliah Nabi SAW dalam menjalankan tugas-tugas kenabian dan kerasulannya).
Sebelum Isra’ Mi’raj, keadaan dan kedudukan  Nabi SAW sangat memprihatinkan kerana wafatnya paman beliau, Abu Thalib, dan istri beliau, Siti Khadijah. Padahal, keduanya merupakan pelindung dan pendukung utama Nabi SAW dalam mengemban risalah Islam. Dengan Isra’ Mi’raj, keimanan atau kekuatan ruhaniah beliau bertambah kuat. Keganasan, dan kekerasan umat yang didakwahnya dihadapi dengan kesabaran yang luar biasa, kerana yakin akan perlindungan Allah SWT dan kebenaran risalah yang dibawanya.
Petikan hikmah
Pertama, diriwayatkan, sebelum Isra Mi’raj, Nabi SAW “dibedah” oleh malaikat untuk membersihkan jiwanya dari sifat-sifat buruk. Itu menunjukkan, sebelum menghadap Allah SWT untuk menjalankan ibadah, kita harus membersihkan dulu jiwa-raga kita, niat-hati dan jasmani, dari segala kotoran atau najis, dari niat yang tidak ikhlas, dan dari pemahaman-pemahaman yang sesat. Ibadah akan tidak sah bila niat kita tidak ikhlas, dinodai bid’ah atau tidakdidasari ilmu (QS. Al-Bayyinah: 5, Al-Hajj: 37, Al-Isra: 36 & 84, Al-Ma’un: 6).
Kedua, ketika Abu Thalib dan Siti Khadijah meninggal dunia, Nabi SAW merasa sedih luar biasa, sehingga tahun itu dinamakan Amul Hazn (Tahun Kesedihan). Itu menunjukkan, dalam berdakwah orang perlu pelindung, pendukung. Siti Khadijah merupakan simbol seorang istri atau wanita yang menunjang perjuangan suami dalam berdakwah.
Ketiga, salah satu tempat yang terkait dengan Isra’ Mi’raj adalah Masjid Aqsha. Setidaknya, peringatan Isra’ Mi’raj kali ini dapat kita bangkitnya semangat kepedulian terhadap nasib Al-Aqsha dan Muslim Palestin.
Keempat,  dan merupakan yang terpenting dalam peristiwa ini ialah .solat. Solat adalah satu-satunya kewajiban dan menjadi kebutuhan umat Islam yang amar-nya diturunkan langsung oleh Allah SWT. Hal itu menunjukkan betapa tingginya kedudukan ibadah solah. Wajar, kalau kemudian solat, sebagaimana tersebut dalam sejumlah hadis Nabi SAW, merupakan “tiang agama”, akan runtuh keislaman seseorang jika meninggalkan atau tidak mendirikan solat. Sebab, solat merupakan penentu diterima-tidaknya amal saleh seseorang serta menjadi ibadah paling utama dalam Islam. Solat juga merupakan amal perbuatan yang pertama kali dihisab di akhirat dan menentukan baik-buruknya amal seseorang.
Solat merupakan ibadah yang tidak boleh ditinggalkan, pembeza antara umat Islam dan kafirin, penentu kebaikan dan keburukan amal seseorang (QS. 29: 45, 70: 19-23), dan merupakan cermin akidah Islam (tauhid).
Pada bulan Rajab, khususnya peringatan Isra’ Mi’raj, seharusnya kita bermuhasabah solat kita selama ini: sudahkah dilaksanakan sesuai sunnah Rasul? Sudah pahamkah kita akan makna bacaan dan gerakan solat? Sudah khusyukah solat kita selama ini
Selain itu, dalam Alquran setidaknya disebutkan tiga golongan mushali atau orang yang solat. Yaitu, : khasyi’un, sahun, dan yuraun. Cubalah Kita usaha diri kita, termasuk kelompok manakah kita?
Golongan khasyi’un (adalah mereka yang mendirikan solat dengan sungguh-sungguh (khusyu’), mengetahui  cara dan rukun solat, ikhlas dalam mendirikannya, menjadikan solat sebagai kebutuhan, serta mengamalkan apa yang diucapkannya dalam shalat dalam kehidupan sehari-hari. Kerananya, solat golongan ini berpengaruh terhadap perilakunya, yaitu dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar (QS. 29: 45).
Golongan sahun (QS. 107:5) adalah mereka yang melakukan solat dengan lalai, sering (atau sengaja) lupa kerana tidak merasakannya sebagai kebutuhan, dan menganggap solat sebagai beban.
Sedangkan golongan yuraa’un (QS. 107: 6) adalah mereka yang melakukan solat dengan niat yang tidak ikhlas, ibadah solatnya ternodai perasaan atau keinginan dipuji atau dilihat orang lain. Justeru itu, dalam satu ayat qur’an Allah berfirman “ Neraka waill bagi mereka yang bersolah”. Semoga amalan solat kita terjauh dari hal-hal ini. 

วันพฤหัสบดีที่ 6 มิถุนายน พ.ศ. 2556

"การจัดการสินทรัพย์ในอิสลาม"(2)

"การจัดการสินทรัพย์ในอิสลาม"
   By Musa Bin Arifeen

          กฎหมายชารีอะห์กับการจัดการสินทรัพย์
          การจัดการสินทรัพย์ตามรูปแบบอิสลามก็ไม่แตกต่างจากอุตสาหกรรมทางการเงินรูปแบบอิสลามอื่น ๆ ที่ต้องมีกรอบของกฎหมายชารีอะห์ในการดำเนินงาน กองทุนอิสลามทั้งหลายจำเป็นต้องมีการบริหารจัดการตามกรอบที่ชารีอะห์กำหนด เช่น ไม่สามารถไปลงทุนในธุรกิจที่เกี่ยวข้องกับดอกเบี้ย เช่น การซื้อขายพันธบัตรทั่วไปที่กำหนดอัตราดอกเบี้ยที่จะได้จากการลงทุน เป็นต้น การจัดการสินทรัพย์รูปแบบอิสลามมีขอบเขตที่ต้องพิจารณาทำความเข้าใจหลายเรื่องด้วยกัน เช่น สัญญาและโครงสร้างสำหรับการจัดการสินทรัพย์ในอิสลาม พื้นที่ทางการตลาดสำหรับการจัดการสินทรัพย์ การดำเนินการเรื่องกองทุน กระบวนการต่าง ๆ ในการจัดการสินทรัพย์ รวมถึง คณะกรรมการที่ปรึกษาด้านกฎหมายชารีอะห์ เหล่านี้ล้วนมีความสำคัญต่อความสำเร็จ และสัมฤทธิ์ผลในการบริหารหรือการจัดการสินทรัพย์ในอิสลาม

โครงสร้างสำหรับการจัดการสินทรัพย์
          อันที่จริงโครงสร้างสูงสุดของการจัดการสินทรัพย์คือการปฏิบัติตามหลักกฎหมายชารีอะห์ ซึ่งมีบอร์ดหรือคณะกรรมการที่ปรึกษาฝ่ายกฎหมายชารีอะห์ (Sharia’a Supervisory Board / SBB) ในฐานะผู้บริหารระดับสูงของโครงสร้างการจัดการสินทรัพย์อิสลาม ซึ่งการปฏิบัติตามหลักกฎหมายชารีอะห์มีความคลอบคลุมตั้งแต่ที่มาของทุน หรือกองทุน ตลาด กระบวนการและวิธีการดำเนินงานกับกองทุน เช่น การลงทุน การจัดการความเสี่ยง ประเภทของการลงทุน ประเภทของสินค้า เป็นต้น ทั้งหมดเหล่านี้ต้องผ่านการพิจารณาของคณะกรรมการที่ปรึกษาฝ่ายกฎหมายชารีอะห์ ดั้งนั้น บทบาทและหน้าที่ของคณะกรรมที่ปรึกษาฝ่ายกฎหมายชารีอะห์จึงมีสูงมาก และต้องรับผิดชอบ (ตามกฎหมายชารีอะห์) แทบทุกเรื่องที่เกี่ยวข้องกฎหมายชารีอะห์กับการจัดการสินทรัพย์ เพราะอยู่ในฐานะผู้มีอำนาจสูงสุดในการพิจารณา อนุมัติ และตัดสินใจ ตามโครงสร้างที่กฎหมายชารีอะห์ได้กำหนดเอาไว้ แม้ว่าในความเป็นจริงบอร์ดของผู้บริหารจัดการ (Managing Board) จะทำหน้าที่การบริหารสินทรัพย์เกือบทั้งหมด แต่ก็ต้องได้รับความเห็นชอบจากคณะกรรมการที่ปรึกษาฝ่ายกฎหมายชารีอะห์เสียก่อน มิฉะนั้น การจัดการสินทรัพย์ดังกล่าวมิอาจถูกพิจารณาได้ว่าเป็นการจัดการสินทรัพย์ในรูปแบบอิสลามที่สอดคล้องกับหลักชารีอะห์

บทบาทหน้าที่สำคัญของคณะกรรมการที่ปรึกษาฝ่ายกฎหมายชารีอะห์
1.       บทบาทในการให้คำปรึกษา
2.       บทบาทในการให้ความเห็นชอบหรืออนุมัติให้ดำเนินการจัดการตามกระบวนการซึ่งมีแบบอย่างกระบวนการแนวทางการปฏิบัติที่ดี (Best Practice) ดังนี้คือ
1.       การสร้างตัวผลิตภัณฑ์ที่เป็นไปตามความต้องการของตลาดหรือลูกค้า
2.       การเห็นชอบต่อผลิตภัณฑ์หรือแนวคิดโดยคณะกรรมการที่ปรึกษาฝ่ายกฎหมายชารีอะห์
3.       การจัดทำเอกสารต่าง ๆ ให้เป็นไปตามกฎหมาย
4.       การพิจารณาระดับภายในฝ่ายกฎหมายชารีอะห์ เพื่อตรวจสอบว่าไม่มีเอกสารใด ๆ ที่จะท้าทายการไม่ปฏิบัติตามหลักกฎชารีอะห์
5.       การพิจารณาโดยคณะกรรมการที่ปรึกษาฝ่ายกฎหมายชารีอะห์ เป็นขั้นตอนหลังจากได้มีการพิจารณาระดับภายในแล้ว(อนุกรรมการฝ่ายชารีอะห์)
6.       การอนุมัติขั้นสุดท้าย

3.       บทบาทในฐานะผู้ตรวจสอบ (Audit role) ซึ่งเป็นบทบาทที่สำคัญของคณะกรรมการที่ปรึกษาฝ่ายชารีอะห์ ที่ให้ความสำคัญทั้งก่อนและหลังการจัดการสินทรัพย์รูปแบบอิสลาม นอกเหนือจากบทบาทดังกล่าวมาแล้ว บทบาทที่สำคัญอีกประการหนึ่งคือ การผลักดันให้เกิดการรับผิดชอบต่อสังคม (Social responsibility) ซึ่งก็หมายความว่า คณะกรรมการที่ปรึกษาฝ่ายชารีอะห์ต้องคิดคำนวณว่า ผลของการบริหารจัดการสินทรัพย์นั้น จะนำไปใช้เพื่อแสดงความรับผิดชอบต่อสังคม ซึ่งหนึ่งในความรับผิดชอบทางสังคมนั้นคือ ข้อบังคับให้มีการจ่าย ซะกาต เพราะอันที่จริงแล้ว ซะกาต เป็นเพียง ความรับผิดชอบทางสังคมขั้นต่ำสุดที่มุสลิมทุกคนต้องกระทำ (Minimal Social responsibility) เพราะยังมีความรับผิดชอบทางสัมคมอื่นๆ อีกมากมาย
เมื่อพิจารณาการจัดการสินทรัพย์อิสลามในภาพรวม จะพบว่าอิสลามมีรูปแบบที่ชัดเจนในการจัดการสินทรัพย์มีแนวทางและวิธีการ รวมถึงกระบวนการในการจัดการสินทรัพย์โดยใช้กรอบแห่งกฎหมายชารีอะห์ เป็นสำคัญ อย่างไรก็ดีสำหรับผู้สนใจการจัดการสินทรัพย์รูปแบบอิสลามยังมีประเด็นรายละเอียดปลีกย่อยที่เกี่ยวข้องอื่นๆ ต้องทำความเข้าใจและศึกษาเพิ่มเติมต่อไป

"การจัดการสินทรัพย์ในอิสลาม"!(1)

"การจัดการสินทรัพย์ในอิสลาม"
By Musa Bin Arifeen

การจัดการสินทรัพย์ในอิสลามหรือการจัดการตามหลักกฎหมายชารีอะห์ เจริญเติบโตมากพอ ๆ กันกับอุตสาหกรรมทางการเงินรูปแบบอื่นๆในอิสลาม ซึ่ง ณ ปัจจุบันมีกองทุนต่าง ๆ มากกว่า 700 กองทุน และมีเงินทุนในการบริหารจัดการไม่ต่ำกว่า เจ็ดหมื่นล้านดอลล่าร์สหรัฐ ดังนั้นอุตสาหกรรมการจัดการสินทรัพย์รูปแบบอิสลาม ประเภทของกองทุน และกระบวนการในการดำเนินการธุรกรรมต่าง ๆ จึงเป็นเรื่องที่สำคัญสำหรับมุสลิมและบุคคลทั่วไปที่สนใจจะศึกษาเพื่อร่วมลงทุนหรือสนับสนุนการลงทุนตามกรอบการจัดการสินทรัพย์ในศาสนาอิสลาม นอกจากนี้การจัดการสินทรัพย์ตามหลักชารีอะห์ยังเป็นการสะท้อนให้เห็นว่าหลักชารีอะห์เป็นกฎหมายที่ครอบคลุมและให้การสนับสนุนและส่งเสริมธุรกรรมทางเศรษฐกิจได้ดีไม่แพ้ระบบเศรษฐกิจในระบบทุนนิยมทั่วไป ยิ่งไปกว่านั้น การจัดการสินทรัพย์ตามหลักชารีอะห์ยังสะท้อนให้เห็นความศรัทธาและความเชื่อมั่นต่อศาสนาอิสลามที่ให้แนวทางในการบริหารจัดการไว้อย่างครอบคลุมทั้งแนวคิด หลักการ จริยธรรม แนวทางในการประยุกต์ใช้เพื่อประโยชน์สุขของประชาชาติทั้งมวล ซึ่งมิใช่เฉพาะเจาะจงเพียงแค่ชาวมุสลิม แต่รวมถึงชาวต่างศาสนิกที่สนใจ และไม่จำกัดว่าผู้ลงทุนในรูปแบบอิสลามจะเป็นคนรวยหรือคนจน แต่สิ่งที่อิสลามนำเสนอคือกรอบแห่งความยุติธรรม โดยใช้หลักกฎหมายชารีอะห์เป็นเกณฑ์ที่สำคัญ
อย่างไรก็ดีการจัดการสินทรัพย์ในอิสลามมีคุณลักษณะพิเศษที่แตกต่างกันออกไปจากการจัดการสินทรัพย์ในระบบทุนนิยมทั่วไป ซึ่งคุณลักษณะดังกล่าวสามารถแยกแยะได้ดังนี้คือ

คุณลักษณะเฉพาะที่สำคัญของการเงินตามหลักศาสนาอิสลาม (หลักชารีอะห์)

ประการแรก การจัดการสินทรัพย์ในอิสลามมีความเกี่ยวโยงกันอย่างแยกไม่ออกกับหลักจริยธรรมอิสลาม (Islamic Ethics) คือหลักความยุติธรรม (Principle of Justice) ซึ่งจะแตกต่างจากค่านิยมและคุณค่าทางธุรกิจในระบบเศรษฐกิจโดยทั่วไป (ธุรกิจในระบบทุนนิยม) เพราะคุณค่าทางธุรกิจในกฎหมายอิสลามหรือหลักชารีอะห์ยึดโยงกับหลักความยุติธรรมระหว่างคู่สัญญาทางธุรกิจ หลักความยุติธรรมจึงเป็นจริยธรรมในธุรกรรมทางเศรษฐกิจดำเนินไปด้วยความบริสุทธิ์ยุติธรรม จริยธรรมอิสลามจึงวางหลักการที่สำคัญอาไว้ 6 ประการด้วยกัน
1.       การเป็นคนงานหรือผู้รับใช้ของมนุษย์บนโลกนี้ กล่าวคือทรัพย์สินส่วนบุคคลหรือการเป็นเจ้าของหรือมีกรรมสิทธิเหนือทรัพย์สิน แม้เป็นที่อนุมัติในอิสลาม แต่ไม่ได้เป็นเป้าหมายในตัวของมันเอง แต่ถูกมองว่าเป็นการให้ยืมจากพระเจ้าการครอบครองเพียงชั่วคราวเพื่อใช้ประโยชน์ต่อตนเองและผู้อื่น ดังนั้นการใช้ประโยชน์จากทรัพย์สินแม้เป็นของตนเอง ยังต้องคำนึงถึงผลประโยชน์สาธารณะเป็นสำคัญ
2.       ความซื่อสัตย์ เป็นคุณลักษณะที่สำคัญของจริยธรรมอิสลาม กิจกรรมทางธุรกิจต้องดำเนินการบนฐานความซื่อสัตย์
3.       ความบริสุทธิ์ใจ หมายความว่า ทุก ๆ การกระทำจะต้องปราศจากการโกหก หลอกลวง หน้าไหว้หลังหลอก ระหว่างคู่ค้าทางธุรกรรม ไม่ว่าจะเป็นนายจ้าง ผู้ถือหุ้น หรือผู้ที่มีส่วนได้ส่วนเสียทั้งหมด
4.       ความเคร่งครัด กล่าวคือในทุกกิจกรรมและทุกสถานการณ์ คุณค่า หลักการ กฎระเบียบที่หลักชารีอะห์ได้วางเอาไว้ต้องถูกนำมาใช้อย่างเคร่งครัด
5.       ความยุติธรรมในการแลกเปลี่ยน ความยุติธรรมในการแลกเปลี่ยนทางเศรษฐกิจต้องไม่ทำให้คู่ค้าที่เกี่ยวข้องเสียเปรียบ เช่น การตั้งราคาที่ไม่สมเหตุสมผล
6.       ความถูกต้อง และความสมบูรณ์ในการทำงาน เป็นสิ่งที่ปัจเจกบุคคลต้องรับประกันว่า พวกเขาแต่ละคนสามารถปฏิบัติหน้าที่ส่วนตนอย่างมืออาชีพ และพยายามให้บรรลุความสำเร็จตามความสามารถของเขา

ประการที่สอง การประยุกต์ใช้หลักจริยธรรมในการดำเนินการทางธุรกิจ หลักจริยธรรมอิสลามมิได้ประยุกต์ใช้เฉพาะส่วนตัวของมุสลิมเท่านั้น แต่รวมถึงแนวทางในการดำเนินธุรกิจของพวกเขาด้วย ซึ่งจริยธรรมส่วนนี้สามารถสะท้อนออกมาในเชิงพฤติกรรมได้ดังนี้คือ
1.       ความซื่อสัตย์และการค้าที่ยุติธรรม อันหมายถึงการไม่โกงน้ำหนัก ไม่ซ่อนตำหนิสินค้า ไม่กักตุน โกงหรือฉกฉวยโอกาส
2.       การเปิดเผยและการโปร่งใส หมายถึง ผู้ซื้อสามารถขอดูสินค้าและผู้ขายสามารถเปิดเผยคุณภาพต่าง ๆ ของสินค้าและเป็นไปตามความพึงพอใจของผู้ซื้อ ทุกส่วนประกอบของสินค้าต้องได้รับความพึงพอใจของผู้ซื้อ
3.       การเป็นทำให้หลงเข้าใจผิด หรือการโฆษณาเกินจริงกว่าสินค้า หรือการทำให้หลงเชื่อในคำโฆษณาทั้งจากตัวสินค้า การเป็นเจ้าของสินค้า หรือเจตนาของเจ้าของสินค้าเป็นต้น
4.       การแทรกแซงบนการซื้อขายของผู้อื่น
5.       สินค้าต้องห้าม หมายถึง สินค้าที่เป็นที่ต้องห้ามตามหลักชารีอะห์ จะไม่สามารถนำมาทำธุรกิจซื้อขายแลกเปลี่ยน หรือลงทุนได้
6.       การกักตุนสินค้า เป็นเรื่องต้องห้ามในอิสลาม
7.       การซื้อขายสินค้า และทรัพย์สินควรอยู่ในตลาดเปิด
8.       การหลีกเลี่ยงการเอาเปรียบผู้ขายหรือผู้ซื้อที่หมดทางสู้

ประการที่สาม ข้อห้ามหลัก ๆ ของกฎหมายชารีอะห์ ซึ่งพอสรุปได้ดังนี้คือ
1.       ดอกเบี้ย หรือ ริบาอ์  คือส่วนเกินที่เกิดขึ้นจากการแลกเปลี่ยน ซึ่งดอกเบี้ยนี้มิใช่เฉพาะดอกเบี้ยที่เป็นตัวเงินเท่านั้น แต่ยังรวมถึงเครื่องอุปโภคอื่นที่ใช้ทำหน้าที่คล้ายกับตัวเงิน เช่น ทอง เงิน ข้าวโพด ข้าวบาร์เล่ อินทผลัม และเกลือ  นอกจากนี้อาจเป็นเครื่องอุปโภคอื่น ๆ ที่กำหนดให้ทำหน้าที่คล้าย ๆ กับเงินในประเทศนั้น ๆ
2.       ความไม่แน่นอนและการพนัน ความไม่แน่นอนนี้ หมายถึงความสงสัยคลางแคลงและความไม่รู้ในตัวสินค้า บริการ ราคา ช่วงเวลา และความไม่รู้ในธุรกรรมของคู่ค้าเป็นต้น ส่วนการพนันนั้นมีข้อบ่งชี้ที่ชัดเจนอยู่แล้ว เพราะอันที่จริง ทุก ๆ การพนันก็คือ ความไม่แน่นอน ซึ่งหลักชารีอะห์ห้ามทำธุรกรรมกับความไม่แน่นอนอยู่แล้ว

ประการที่สี่ อุตสาหกรรมที่ต้องห้าม ซึ่งนอกจากสิ่งที่เป็นที่ต้องห้ามในสังคม เช่น ยาเสพติดผิดกฎหมาย การค้าอาวุธเถื่อน หลักชารีอะห์มีกรอบการห้ามอุตสาหกรรมที่เกี่ยวข้องกับสิ่งต่าง ๆ ดังต่อไปนี้
1.       การประกันภัยและการธนาคารในระบบทุนนิยมทั่วไป (Conventional Banking and Insurance) ซึ่งเกี่ยวข้องโดยตรงกับระบบดอกเบี้ย
2.       แอลกอฮอล์สำหรับบริโภค ซึ่งมีข้อห้ามการยุ่งเกี่ยว ทั้งการห้ามทางการตลาด การซื้อ-ขาย และการทำงานในอุตสาหกรรมเหล่านี้
3.       สินค้าหรือผลิตภัณฑ์ที่เกี่ยวข้องกับหมู และผลิตภัณฑ์อาหารที่ไม่สอดคล้องกับหลักชารีอะห์ เช่น เนื้อสัตว์ที่ไม่ได้เชือดตามหลักการศาสนา
4.       การพนัน รวมถึงการเสี่ยงทายทุกชนิด
5.       ยาสูบ มีข้อห้ามคล้ายกับแอลกอฮอล์ (มีบางทัศนะที่เห็นว่ายาสูบไม่ใช่ประเภทเดียวกันกับแอลกอฮอล์)
6.       สิ่งบันเทิงของผู้ใหญ่ หมายถึง กิจกรรมที่เกี่ยวข้องกับการให้บริการ กิจการความบันเทิง เช่น บาร์ ไนต์คลับ และรวมถึง ภาพยนต์ลามกที่มีเนื้อหายั่วยุทางเพศชัดเจนไม่ว่าจะเป็นในรูปแบบใดก็ตาม
7.       อาวุธและอุตสาหกรรมการผลิตอาวุธ

‘Natijah daripada Perpecahan’

‘Natijah daripada Perpecahan
Oleh W.Erfan    
             إنَّ الحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِ فَلَا هَادِيَلَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا. أشْهَدُ أنْ لَا إلهَ إلّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا وحبيبنا المصطفى محُمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ اجمعين.
          أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ الله ، إتقوا الله، أوْصِيْكُمْ وَيايَ بِتَقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ الْمُتقُون .
 
Sidang jumaat yang mulia!
            Bertakwalah kamu kepada Allah s.w.t. samada di tempat yang zahir dan tempat yang sembunyi, kerana ketakwaan itulah sebagai bekalan hidup kita di dunia dan di akhirat.
            Salah satu daripada ajaran Islam yang sebagai agama yang di kasihi oleh kita semua ialah jangan berpecah-belah atau bercerai-berai, jangan membahagi belah membahagi puak dan keturunan, jangan bertaa’sub kepada pihak tertentu, kerana kelakuan yang sedemikian adalah kelakuan yang di lakukan oleh orang-orang yang dahulu dari kita. Allah s.w.t. selalu mencela kelakuan tersebut dan melarang keras daripada kelakuan itu, seperti di jelaskan di dalam surah al-Imran ayat 105
Maksudnya: “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (yahudi dan nasrani) yang telah bercerai-berai dan berselisih (dalam agama mereka) sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas nyata (yang di bawa oleh Nabi-Nabi Allah) dan mereka yang bersifat demikian akan beroleh azab seksa yang besar”.

Sidang jumaat yang di kasihi!
            Umat dahulu mereka bercerai-berai dalam masalah agama dan masalah kepercayaan mereka, timbul perpecahan dan tidak bersatu di dalam kalangan mereka, maka natijah yang mereka peroleh ialah kehancuran di dunia ini dan di akhirat nanti, dengan yang demikian Allah s.w.t. melarang keras supaya kita tidak menjadi seperti mereka itu, Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-An’am ayat: 159
Maksudnya: “Bahwasanya orang-orang yang mencerai-beraikan agama mereka (dengan perselisihan-perselisihan yang berdasarkan hawa nafsu) dan mereka yang menjadi berpuak-puak tiadalah engkau terkait sedikit pun dalam(perbuatan) mereka, sesungguhnya perkara mereka hanya terserah kepada Allah, kemudian ia akan menerangkan kepada mereka (pada hari kiamat kelak) apa yang telah mereka lakukan.
            Ibn Abbas r.d. berkata: ayat ini di turunkan tentang hal orang yahudi dan nasrani, oleh kerana dua golongan ini timbul perselisihan berpecah kepada mazhab-mazhab di dalam masalah beragama, perselisihan itu membawa kepada perbunuhan dan menumpah darah, maka dua golongan ini sebagai pengajaran yang buruk bagi umat Islam yang tidak patut di ikuti, dan azab Allah juga akan menimpa keatas mereka sebagai ajaran dari Allah yang melangari perintahNya.
            Sekiranya umat Islam timbul perselisihan yang berpecah-pecahan dan ada perpaduan antara yang lain, maka ingatlah bahwa umat Islam di karun kebelakangan ini sedang-sedang kembali kepada jalan orang dahulu yang telah di timpa keatas mereka akan bala dari Allah s.w.t. perkara ini bukan tidak berlaku bahkan sudah berlaku dan akan berlaku seperti orang-orang dahulu di timpa, sebab kita tidak sedar dan tidak mengambil pengajaran dari orang-orang dahulu sebagai pengajaran bagi kita, dia akan berlaku seperti orang dahulu sekiranya kita biarkan masyarakat kita timbul perpecahan dengan tidak menjari jalan untuk mengatasi, atau menahan daripada timbul perpecahan , oleh kerana di hari ini makin hari makin seakan-akan keadaan dengan orang karun dahulu.

Sidang jumaat yang mulia!
            Ingatlah bahwa natijah daripada perpecahan umat, natijah daripada bercerai-berai adalah senjata yang paling bahaya sekali pada membunuh umat Islam, ia lebih bahaya daripada senjata dari pihak musuh.   

    بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُم فِى القُرآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَإيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إنَهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ. وَأسْتَغْفِرُاللهَ العَظِيْمَ لِىْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤمِنِيْنَ وَالمُؤمِنَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيْم.